3 Prinsip Memperpanjang Umur Simpan Produk UMKM



Seiring berkembangnya informasi seputar kewirausahaan UMKM, pelatihan, hingga akses pendanaan pemerintah maupun venture capital, terdapat satu hal yang masih UMKM nantikan untuk “terbuka akses”nya, yaitu akses ilmu untuk memperpanjang umur simpan produk. Luasnya distribusi produk sangatlah ditentukan oleh umur simpan produk. Dapat kita bayangkan betapa menantangnya mendistribusikan produk yang hanya bertahan 3 hari di suhu ruang ke seluruh pelosok negeri. Mungkin akan memerlukan cool box untuk menjaga suhu produk selama transportasi, lemari pendingin untuk menjaga kualitas produk di outlet, dan sebagainya yang bisa memakan dana lebih. Sedangkan produk yang bertahan 1 tahun di suhu ruang dapat diedarkan dengan lebih mudah. Berandai mengenai umur simpan, banyak UMKM berharap produknya dapat tahan 6 bulan - 1 tahun di suhu ruang. Padahal kenyataannya, tidak semua pangan mampu bertahan sedemikian lama. Perlu dipahami terlebih dahulu kandungan nutrisi, kebersihan produksi, dan kemasannya sebelum kita berharap memperpanjang umur simpan produk.


Contoh produk pangan tinggi nutrisi dan rentan tercemar.

Sumber https://www.morrisonhealthcare.com/blog/keeping-patients-safe-managing-high-risk-meals/



1. Nutrisi


Kenali apakah produk kita tinggi akan nutrisi makro yaitu karbohidrat, protein, atau lemak. Alasan susu kacang kedelai sering kali rusak adalah karena pangan ini sangat kaya nutrisi makro.


Mengapa pangan tinggi nutrisi mudah rusak?

Karena semakin mudah dikonsumsi oleh kuman pencemar, atau mudah rusak karena paparan oksigen dan cahaya.


Bagaimana cara mengatasinya:

Upayakan meminimalisir paparan produk dari udara, kelembaban, oksigen, cahaya, dan terutama kuman pencemar pada proses produksi hingga pengemasan.



2. Kebersihan produksi


Mari kita coba nilai kualitas kebersihan ruang produksi kita dengan mengacu pada standar global, yaitu Good Manufacturing Practices (GMP), atau yang di Indonesia diperkenalkan sebagai CPPOB oleh BPOM. Buku tentang GMP dapat anda pelajari disini https://www.tokopedia.com/mbriobooks/asli-buku-gmp-cara-pengolahan-pangan-yang-baik-by-f-g-winarno


Mengapa harus mengacu pada GMP

GMP adalah panduan sederhana yang sudah disetujui global. Di Indonesia, SNI dan BPOM mengadopsi standar ini sebagai persyaratan untuk memperoleh izin MD (Makanan Dalam Negeri). GMP juga telah diadopsi untuk sertifikasi keamanan pangan tingkat manufaktur dan ekspor seperti HACCP dan ISO 22000.



3. Kemasan


Upaya meminimalisir paparan produk dari udara, kelembaban, oksigen, cahaya, dan terutama kuman pencemar dapat dilakukan dengan memilih kemasan yang tepat. Kita dapat menggunakan kemasan plastik yang tertutup rapat untuk mencegah paparan udara. Lalu gunakan silica gel untuk menyerap kelembaban dalam kemasan. Untuk mencegah oksigen, kemasan dapat diisi nitrogen, menggunakan oxygen scavenger, atau pilih kemasan plastik dengan oxygen transmission rate yang paling rendah. Dan untuk mencegah cahaya, gunakan kemasan tertutup (bukan bening).



Itulah kiat-kiat dasar untuk dapat memperpanjang umur simpan produk. Mohon dipahami, bahwa kiat nomor 3 tidak akan berhasil apabila kiat nomor 2 tidak terlaksana sempurna. Sehingga, mari kita pahami bersama apa itu GMP dan kita implementasi pada ruang produksi. MBRIO memiliki divisi konsultasi untuk membantu UMKM Indonesia mengembangkan kebersihan ruang produksi dan memperpanjang umur simpan produk. Silahkan kunjungi dan hubungi kami https://linktr.ee/mbriofood untuk konsultasi lebih lanjut. (SA)

Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square

Tanya

Food Lab

Tanya

Sertifikasi